Apa Sih yang Biasanya Kamu Prioritaskan Ketika Membeli Buku? Cover, Isi, atau Diskonnya?

Informasi Seru dan Unik


Hari Aksara Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 September sesuai yang digagas oleh UNESCO, nampaknya berhasil menciptakan euforia tersendiri bagi para penikmat buku. Hal itu terlihat jelas nih girls, dalam beberapa pameran buku yang marak digelar pada waktu-waktu mendekati hari peringatan. Biasanya, acara yang diselenggarakan berbentuk festival dalam rentang waktu antara 2-7 hari dan sukses menarik perhatian pengunjung untuk memburu buku.

Dalam acara tersebut, kamu bisa bertemu dengan para pengisi acara yang kebanyakan para penulis dan editor buku, juga banyak sekali booth dari berbagai penerbit buku yang menjual beragam judul buku dengan harga yang miring, bahkan super miring. Nah, biasanya apa sih yang jadi prioritasmu ketika memilih buku yang ingin kamu beli?

Desain cover yang kekinian, ilustrasi yang menarik hati, warna teks yang sesuai kepribadian

Via Theceativepenn.com

Ketika mengunjungi toko buku atau stand yang memamerkan banyak buku, biasanya mata kita akan tertuju pada satu titik yang membuat kita tertarik untuk mengambilnya. Entah karena desainnya yang berbeda dari yang lain, atau karena kamu merasa bahwa pilihan warna pada teks judul sesuai dengan kesukaanmu.

loading...

Sebagaimana fungsi dari tampilan luar, cover pada buku pun dirancang sebegitu dinamisnya mengikuti perkembangan zaman agar bisa menarik perhatian para pemburu buku. Makin ke sini, desain cover buku yang kita temui seringkali lebih sederhana dan minimalis ya, girls. Belum lagi pemilihan warnanya yang cerah, bold, monokrom, bahkan pastel yang instagramable untuk difoto. Sehingga, kita juga kerap kepincut membeli sebuah buku hanya karena sampulnya yang keren dan cute. Benar gak, tuh?

Mengoleksi semua karya penulisnya

Beberapa dari kita mungkin menyukai karya tulis dari penulis yang sama, karena merasa setiap hal yang ditulis oleh si penulis pastilah sesuai dengan apa yang sedang kita alami, atau merasa seolah-olah si penulis tahu apa yang sedang kita pikirkan dan jalankan dalam hidup.

Padahal, mungkin saja tingkat pengatahuan dan pengalaman si penulis saja yang sama dengan kita. Biasanya, penulis yang masuk dalam kategori ini adalah penulis fiksi atau sastra. Kerapkali, penulis fiksi atau sastra senang mengobservasi orang lain yang mereka temui di manapun berada. Mereka melakukan itu biasanya untuk memperdalam pengetahuan dan pengalaman mereka tentang karakter seseorang, yang mungkin saja sedang ia bangun sebagai tokoh dalam ceritanya.

Sama seperti penulis fiksi, para penulis non-fiksi dan humaniora juga harus melakukan observasi namun dengan riset yang lebih mendalam berdasarkan fakta dan data. Penulis non-fiksi dan humaniora juga gak bisa mengarang bebas seluas penulis fiksi, makanya lebih banyak peluang untuk anak muda menghasilkan karya fiksi ketimbang yang lain. Sebab, dari kejadian sehari-hari pun penulis fiksi bisa langsung membuatnya menjadi sebuah tulisan tentang satu hal, lalu menyangkut ke hal yang lain. Banyak juga pembaca yang lebih mengidolakan penulis fiksi atau sastra daripada lainnya. Mungkin karena tulisannya selalu menyangkut pada proses kehidupan manusia dengan bahasa yang sangat mudah dicerna dan membawa kita ke alam imajinasi yang baru.

Isinya lebih dibutuhkan untuk menambah wawasan, untuk meluaskan imajinasi, untuk keperluan riset

Via Freepik.com

Bagi beberapa orang yang sedang mengerjakan tugas seperti menyusun skripsi, tugas akhir, atau tesis, atau bahkan artikel ilmiah, biasanya mereka akan mengincar buku-buku non-fiksi yang bagus, yang mengulas permasalahan yang sedang dipelajari si pembaca. Bisa jadi tentang ekonomi, pendidikan, psikologi, desain, dan lain sebagainya dengan kategori khusus.

Sementara untuk mereka yang sedang membutuhkan bacaan yang segar, mereka akan memilih untuk baca buku-buku fiksi tentang persahabatan, lawakan, atau bisa juga membaca catatan pinggir. Sesungguhnya kita seringkali lupa, bahwa esensi dari sebuah buku itu sebenarnya terasa dari isi bukunya. Bukan melulu cover, penulis, atau hal yang lain. Sebab, seperti kutipan yang cukup terkenal di dunia perbukuan, “Don”t judge a book by it”s cover,”- hal itu memang benar adanya sih, tapi gak melulu benar. Sebab, kerap juga kita temui beberapa cover buku yang merepresentasikan isi dari sebuah buku itu.

Tergiur diskon harga buku gede-gedean yang kesempatannya gak datang dua kali

Nah, inilah salah satu faktor paling populer ketika datang ke festival buku yang menawarkan diskon besar-besaran. Saking gak mau ketinggalan dan kehabisan buku dengan harga super miring, kita sampai lupa kalau buku itu sebenarnya gak kita butuhkan. Beruntung, kalau buku itu memang yang kita butuhkan, atau tanpa sengaja kita tahu kalau ternyata isinya pun bagus. Tapi, tergiur diskon lagi-lagi menjadi hal yang menyebalkan, ketika sampai di rumah lalu kita buka plastik pembungkusnya, kemudian kita buka isinya, jeng-jeng! Lho kok, kertasnya aga buram dan isinya juga gak menarik, beda banget sama ekspektasi. Boom! Pernahkah kamu mengalami hal itu, girls?

Membeli buku karena populer di media sosial dan review dari para pembaca juga bagus!

Seperti halnya para pecinta makeup ketika melihat ulasan suatu produk kecantikan dari brand A di media sosial hingga akhirnya terpikat untuk membelinya, kamu pun yang membaca review tentang sebuah buku di media sosial biasanya juga ikutan tergiur untuk membelinya di kesempatan berikutnya. Yap, semakin sering sebuah buku itu dibahas, buku itu pun akan semakin populer di pasaran, dan akan semakin terpaut dalam ingatanmu untuk mencari tahunya sendiri dengan membeli buku itu atau sekadar meminjamnya dari teman.

Nah, biasanya kamu akan mendapatkan sedikit perasaan dan pengalaman berbeda dari apa yang didapatkan si pembahas buku yang sama, yang pernah kamu simak sebelumnya. Itu terjadi karena adanya perbedaan tingkat pengetahuan dan pengalaman yang kamu dan si pembahas itu rasakan dalam kehidupan sehari-hari kalian, girls! Hal itu pasti berbeda, sebab kalian hidup dalam lingkungan yang berbeda. Sudah pasti dong, cara kalian memandang sesuatu juga pastilah berbeda. Kalau sudah begini, pastilah kamu cemberut, dan menyesali bahwa isi dari buku tersebut gak sebagus yang kamu bayangkan.

Editor’s Pick:
  • Yuk, Simak 5 Hal yang Perlu Kamu Tahu untuk Menyeimbangkan Bekerja Keras dan Bekerja Cerdas!
  • Selain Pengalaman Seru, Ada 6 Manfaat Positif yang Bisa Kamu Dapatkan Saat Menjadi Relawan! Bahagia Salah Satunya!
  • Bersikap Bijak Saat Menanggapi Komentar Negatif di Medsos Itu Penting, Lakukan 7 Hal Ini Biar Kamu Gak Perlu Stres Menghadapinya!
  • Rupiah Melemah Bikin Ukuran Tempe dan Tahu Mengecil? Siasati dengan Mengolahnya dengan 6 Resep Ini
  • Euforia Hari Kemerdekaan, Saatnya Terapkan 6 Sikap Nasionalis dalam Kehidupan Sehari-harimu dengan Cara Sederhana Ini, Yuk!

Terpikat satu buku karena intuisi untuk menjemputnya dari rak

Via Freepik.com

Banyak yang bilang bahwa intuisi itu gak bisa membohongi dirimu sendiri. Makanya gak jarang yang menyatakan, “Buku ini kayaknya bagus, deh.”- Meskipun hanya bermodalkan kata kayaknya, segalanya yang datang dari gerak hati akan selalu dipercayai. Kamu pun pada akhirnya membeli sebuah buku karena intuisimu yang jauh lebih kuat ketimbang godaan yang lain. Dalam hal ini, mempercayai intuisi itu boleh-boleh saja. Gak jarang kok, intuisi yang benar. Hanya saja, jangan menambahkan ekspektasi berlebih pada intuisi dan pilihanmu. Agar kamu gak kecewa kalau-kalau hasil dari mengikuti intuisimu ternyata gak sesuai dengan ekspektasimu.

Bagaimanapun girls, kegiatan membaca adalah hal yang paling positif dan paling bermanfaat yang harus kamu lakukan. Buku itu ladangnya pengetahuan. Kamu bisa mendapatkan banyak sekali pengalaman dan ilmu hanya dengan berbekal buku, tanpa harus mahal-mahal keliling dunia terlebih dulu. Well, selamat memburu buku, ya!

sumber : rimma.co

powered by Surfing Waves
loading...

loading...
|
Baca Lagi
close